Refleksi Satu Dekade Banjir Cimanuk: Menagih Strategi Kebudayaan dalam Mitigasi Bencana
Tepat sepuluh tahun lalu, pada 20 September 2016 malam, Sungai Cimanuk meluap dan menerjang Kota Garut. Banjir bandang dahsyat itu menewaskan lebih dari 20 orang, menghilangkan belasan jiwa, serta memaksa ribuan warga mengungsi setelah rumah mereka disapu air. Be
Kamis, 24 September 2026 pukul 12.26 WIB·1 menit baca·Sumber: Gosip Garut·Kabar langsung

GOSIPGARUT.ID — Tepat sepuluh tahun lalu, pada 20 September 2016 malam, Sungai Cimanuk meluap dan menerjang Kota Garut. Banjir bandang dahsyat itu menewaskan lebih dari 20 orang, menghilangkan belasan jiwa, serta memaksa ribuan warga mengungsi setelah rumah mereka disapu air. Besarnya dampak kerusakan membuat pemerintah pusat saat itu menetapkan tragedi Cimanuk sebagai bencana nasional.
Kini, satu dekade pascabencana, ancaman banjir bandang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk tetap membayangi seiring berulangnya siklus hidrologi. Upaya mitigasi kini tak lagi hanya bertumpu pada pendekatan teknokratis, tetapi juga mulai mengarah pada penggalian kembali nilai-nilai kebudayaan lokal.
Reorientasi strategi mitigasi ini mengemuka dalam diskusi Wahana Ruang Gagasan (Waruga) bertajuk “10 Tahun Banjir Bandang Garut: Refleksi DAS Cimanuk, Penataan Ruang, dan Kesiapsiagaan Masa Depan” yang digelar Yayasan Tangtudibuana di Bale Malire, Garut, Rabu, 23 September 2026.
Ketua Baresan Incu Putu Pangauban (BIPP), Anwar Maulana, menegaskan bahwa masyarakat Sunda tradisional sebetulnya tidak mengenal istilah “bencana alam”. Menurut dia, alam memiliki hukumnya sendiri, dan bencana terjadi ketika manusia menabrak hukum-hukum tersebut.
”Masyarakat Sunda punya budaya hidup selaras dengan alam dengan menempatkan alam sebagai subjek, bukan objek yang bisa dieksploitasi tanpa kendali,” ujar Anwar dalam diskusi tersebut.